Imron Mustofa
Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya
Email: im.mustof4@gmail.com
Jendela Nalar Ilmiah Bernama Logika Manusia fitrahnya berkemampuan menalar, yaitu mampu untuk berpikir secara logis dan analistis, dan diakhiri dengan kesimpulan. Kemampuan ini berkembang karena didukung bahasa sebagai sarana komunikasi verbalnya, sehingga hal-hal yang sifatnya abstrak sekalipun mampu mereka kembangkan, hingga akhirnya sampai pada tingkatan yang dapat dipahami dengan mudah. Karena hal inilah mengapa dalam istilah Aristoteles manusia ia sebut sebagai animal rationale. Oleh sebab itu seorang Cendekiawan seharusnya bekerja secara sistematis, berfikir, dan berlogika serta menghindari diri dari subyektifitas pertimbangannya, meskipun hal ini tidak mutlak. Ketidakpuasan atas keilmuan yang dibangun diatas pemikiran awam terus mendorong berbagai disiplin keilmuan, salah satunya adalah filsafat. Filsafat mengurai kembali semua asumsi tersebut guna mendapatkan sebuah pengetahuan yang hakiki. Setiap kepala memiliki pemikirannya masing-masing, begitu pula dengan para ilmuan, setiap individu merujuk pada filsatat yang sama, yaitu penggunaan metode Ilmiah dalam menyelesaikan sebuah problematika keilmuan yang mereka hadapi. Karena penggunaan metode ilmiah dalam sebuah wacana keilmuan dapat meringankan ilmuan dan pengikutnya dalam melacak kebenaran wacana mereka tersebut. Sehigga akhirnya lahirlah sebuah asumsi bahwa dalam pengetahuan ilmiah semua kebenaran dapat dipertanggung jawabkan, meskipun hanya atas nama logika. Karena pada hakekatnya setiap kebenaran ilmiah selalu diperkuat dengan adanya bukti-bukti empiris maupun indrawi yang mengikutinya. Sehingga dalam proses berfikir ilmiah ataupun sebuah pencapaian pemahaman final perlu ditopang dengan logika. Disebut logika bilamana ia secara luas dapat definisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara benar, yang bermuara pada kesimpulan yang benar. Penarikan kesimpulan dalam berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan logika deduktif dan logika induktif. Selain itu bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah juga sangat berperan penting dalam melakukan kegiatan berpikir ilmiah. Karena bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah serta media untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat berpikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Karenanya, guna mendukung dan mengembangkan wacana keilmuan yang selama ini telah berjalan, maka diperlukan sebuah master plan yang mumpuni. Rencana tersebut haruslah di dalamnya mengandung langkah-langkah baik logika teoritis, skematis, maupun implementasi, serta pelaksanaannya. Ia meliputi: persiapan gambaran metodologi yang akan digunakan, yang diikuti diskursus komprehensif dalam bidang tersebut, kemudian mengkolaborasikannya dengan wacana keilmuan lain, sehingga didapati sebuah sistem berfikir yang dapat disambut oleh semua belah pihak. Yang kesemuanya akan kembali bermuara pada proses pembelajaran terutama dalam wacana keilmuan. Logika sendiri menurut Aristoteles tidak lepas dari istilah silogistik. Ia merupakan sebuah penjelasan yang dalam prosesnya mengandung unsur “abstraksi/premis mayor” dan “difinisi/premis minor” keduanya diperlukan untuk membangun sebuah konsep yang benar sebelum melangkah menjadi proposisi, proposisi inilah yang akhirnya akan bermuara pada kesimpulan. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia bukan hanya sebuah kumpulan koleksi semata, namun ia merupakan kompilasi dari berbagai macam esensi dari fakta-fakta tersebut. Penalaran dalam fungsinya sebagai kegiatan berfikir tentunya memiliki karakteristik atau ciri-ciri tertentu. Pertama, adanya pola berfikir yang secara luas (logis), hal inilah yang sering disebut sebagai logika. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa setiap usaha penalaran mempunyai logikanya tersendiri karena ia merupakan sebuah proses berfikir. Sehingga Berfikir secara logis dapat dimaknai sebagai suatu pola, dan ketentuan tertentu yang digunakan dalam proses berfikir. Maka dari itu sebuah kerangka logika dalam satu hal tertentu sangat mungkin dianggap tidak logis jika ditinjau dari kerangka lainnya. Hal inilah yang menimbulkan adanya ketidakkonsistenan dalam menggunakan pola pikir, yang akhirnya melahirkan beberapa motode pendekatan yang bermacam-macam. Kedua, penalaran harus bersifat analistik, dengan maksud ia merupakan pencerminan dari suatu proses berfikir yang bersandar pada suatu analisa dan kerangka berfikir tertentu, dengan logika sebagai pijakannya. Secara sederhananya poin kedua ini merupakan sebuah proses menganalisa denga n logika ilmiah sebagai pijakannya. Yang mana analisa sendiri adalah suatu kegiatan berfikir dengan langkah-langkah yang tertentu. Sehingga kegiatan berfikir tidak semuanya berlandaskan pada penalaran. Maka dari itu berfikir dapat dibedakan mana yang menggunakan dasar logika dan analisa, serta mana yang tanpa menggunakan penalaran seperti menggunakan perasaan, intuisi, ataupun hal lainnya. Karena hal-hal tersebut bersifat non-analistik, yang tidak mendasarkan diri pada suatu pola berfikir tertentu. Pengetahuan selalu berkembang dengan ukuran-ukuran yang konkrit, model, dan metodologi, serta observasi. Hingga dalam perkembangannya model dan cara berfikir yang dianggap kuno telah memperoleh gugatan. Hal ini dikarenakan, tidak semua ilmu pengetahuan dapat didekati dengan cara yang sama. Sehingga ditemukannya metode berfikir ilmiah, secara langsung telah membawa terjadinya perkembangan dalam ilmu pengetahuan. Manusia bukan saja hidup dalam kondisi modernisasi yang serba mudah dan praktis. Lebih dari itu, kini manusia mampu menggapai sesuatu yang sebelumnya seolah tidak mungkin. Manusia tidak lagi diam, atas apa yang terjadi, sebagai akibat dari perkembangan logika manusia. Satu hal dalam logika penalaran, yang menjadi pertimbangan adalah pernyataan-pernyataan yang ada sebelumnya. Masing-masing hanya dapat bernilai salah atau benar namun tidak keduanya. Hal inilah yang sebelumnya disebut sebagai proposisi. Proposisi yang telah dihimpun ini nantinya akan dapat dievaluasi dengan beberapa cara, seperti: deduksi, dan induksi. Maka dari itu, poin pembahasan yang relevan dengan topik wacana kali ini, adalah metode induksi dan deduksi. Yang secara singkat jika metode induksi diartikan sebagai salah satu cara untuk menarik kesimpulan yang umum digunakan oleh para ilmuwan. Maka metode deduksi adalah kebalikan dari metode induksi, karena ia menarik kesimpulan kepada yang lebih khusus, dan terperinci. Adapun Tujuan dari penggunaan kedua metode ilmiah ini tiada lain adalah agar ilmu berkembang dan tetap eksis dan mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Serta mendapakan sebuah kebenaran dan kesesuaian antara kajian ilmiah, dengan tanpa terbatas ruang, waktu, tempat dan kondisi tertentu. Namun perlu diwaspadai, bahwa posisi rasio yang begitu urgen dalam kaitannya dengan logika dapat mendominasi pengesahan suatu ilmu pengetahuan,18 sehingga batasan-batasan waliyah rasio harus jelas, dan terarah.
Fase Perkembangan Logika Inti pembahasan logika tersusun setidaknya ada tiga poin. Pertama: Konsep atau istilah, yaitu sebuah tangkapan akal manusia mengenai suatu obyek, baik bersifat material, maupun non-material. Ia juga sering dimaknai sebagai sebuah makna yang dikandung oleh suatu obyek. Sehingga dengan kata lain, hal ini merupakan penjelmaan atau abstraksi tentang pentafsiran, ataupun pemaknaan dari suatu obyek, yang masing-masing obyek memiliki essensi, dan ruang lingkup cakupan makna. Kedua: Proposisi atau kalimat pernyataan, yaitu sebuah pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk bahasa, meskipun tidak semua yang ada dalam pikiran manusia mampu diungkapkan dalam kata-kata. Ia dapat pula dinyatakan sebagai sebuah kalimat deklarasi tentang suatu obyek. Di sini kalimat deklaratif sendiri mengandung pilihan makna antara benar, atau salah. Untuk itu proposisi, ataupun logika secara umum sejatinya dibangun di atas prinsip, atau kaidah tertentu, seperti : identitas, non-kontradiktif, eksklusi tertii (ketidak bolehan tumpang tindih), dan prinsip cukup alasan. Ketiga: Silogisme (paragraf), atau suatu penalaran yang terbentuk dari hubungan dua buah proposisi, yang akhirnya akan menghasilkan sebuah kesimpulan. Silogisme inilah yang sering dimaksudkan sebagai hasil dari suatu penalaran, ataupun logika berfikir. Logika sendiri tidak semata-mata lahir sebagai sebuah cara berfikir dalam memandang hidup yang tersusun rapi, namun sejatinya ia mengalami proses yang dimulai dari logika sebagai metode berfikir. Ia kemudian bergulis dan berkembang menjadi sebuah landasan pengembangan ilmu dan akhirnya menjelma sebagai suatu cara pandang terhadap dunia (worldview). Muncul logika sebagai suatu cara berfikir, tidak bisa begitu saja terlepas dari pengaruh pemikiran silogisme Aristoteles. Walaupun konon cara berfikir seperti ini sudah ada dua abad sebelum zaman Aristoteles, sehingga ia hanyalah berperan dalam mendeskripsikan pola cara berfikir tersebut, namun bukan sebagai pencetus awal pandangan tersebut. Dengan kata lain, di sini ia terlihat menyandarkan upayanya dalam memperoleh pengetahuan pada keterikatan sebab, dan akibat yang sistematis. Selanjutnya premis-premis dalam logika haruslah merupakan sebuah pernyataan yang benar, primer, dan diperlukan. Maka dari itu, pada tahapan ini sumber pengetahuan yang mampu dicapai oleh rasio sangatlah bergantung pada logika ataupun kemampuan akal dalam merasiokan suatu hal itu sendiri. Kemampuan merasio ini berkembang menjadi landasan pengembangan ilmu. Hal ini tampak jelas pada masa penerjemahan ilmuilmu Yunani kedalam dunia Arab. Pada abad kedua hiriah, logika merupakan salah satu bagian ilmu pengetahuan yang sangat menggoda minat kaum muslim. Pada awal perkembangan ilmu ini terjadi gejolak perbedaan pendapat tentang mempelajarinya. Ada yang menentangnya seperti Imam Nawawi, adapula yang mendukungnya seperti Imam al-Ghazali. Namun mayoritas ulama’ menganjurkannya bagi mereka yang memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memperlajari ilmu ini. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut al-Kindi, dan al-Farabi mempedalami disiplin ilmu ini. Mereka mempelajari kaidah-kaidah, serta pola dalam penggunaannya, kemudian mengujinya dalam kehidupan sehari-hari, guna membuktikan benar atau salahnya. Hal ini bisa dibilang suatu langkah yang sangat berani, mengingat ia belum pernah dilakukan sebelumnya. Perkembangan selanjutnya dalam rentang waktu abad 13 sampai abad 15, sebut saja Roger Bacon, Petrus Hispanus, mereka mencoba menampilkan suatu logika pembacaan yang berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh pendahulu mereka, yaitu Arsitoteles. Logika tersebut dikenal dengan sebutan Ars Magna. Ia adalah semacam aljabar pengertian dengan maksud membuktikan kebenaran tertinggi. Silogisme, dan Ars Magna keduanya menjadi bagian dari pola fikir yang turut mewarnai perkembangan keilmuan di dunia masa itu, sebelum lahir Francis Bacon yang menawarkan sebuah metode yang diklaim baru yang disebut dengan metode penalaran induktif, dalam karyanya Novum Organum Scientiarum. W. Leibniz yang mengenalkan logika aljabar dalam memberi kepastian, ataupun Kant yang menemukan Logika Transendental. Dan masih banyak lagi nama-nama besar dalam hai ini, seperti Bertrand Russell, G.Frege, dan lain sebagainya. Puncak dari perkembangan logika ini berakhir sebagai suatu cara pandang terhadap dunia (worldview). Meskipun hasil berfikir tidak semuanya membuahkan tindakan, adakalanya saat hal itu hanya akan menjadi hanya sebagai buah pikiran belaka. Ini juga tidak menutup kemungkinan untuk berarkhir dalam sebuah tindakan konkret. Tindakan itu mungkin dibangun dalam konteks yang spesifik, seperti dalam cabang ilmu matematika, sebuah game, ataupun sebuah penelitian ilmiah. Namun pada umumnya cara berfikir ilmiah ini akan berujung pada sebuah tindakan, yang disesuaikan dengan konteks permasalahan yang dihadapi. Ia mengandung rencana atau rancangan, pilihan, ataupun keputusan yang akan diambil. Keputusan dari tindakan inilah yang kemudian hari akan berkonsekuensi yang akan dirasakan oleh masyarakat global. Hal ini sangat mungkin bersenggolan dengan beberapa elemen, seperti: nilai, ide, sistem, keyakinan dasar, dan elemen lainnya, yang kesemuanya tidak terjadi begitu saja dalam sebuah kekosongan. Manusia kini dituntut untuk dapat hidup secara global, maka orang lain, ataupun lingkungan akan selalu terimbas dampak dari berbagai tindakan yang lahir dari inisiatif, ataupun keputusan yang dibuat oleh individu. Artinya semua tindakan, baik yang kita komunikasikan secara eksplisit, ataupun implisit akan memunculkan akibat bagi masyarakat luas. Pola pikir atau yang biasa didengungkan dengan logika adalah salah satu faktor yang paling mendasar yang mempengaruhi tindakan manusia. Sehingga komunikasi antara pikiran dan perbuatan sudah menjadi sebuah paket yang tidak terpisahkan. Orang yang sudah terbiasa berfikir logis, maka ia memandang segala sesuatu secara logis. Karenanya peran logika adalah sebagai salah satu sentral perkembangan ilmu pengetahuan, yang mana ilmu inilah yang memperngaruhi cara manusia dalam memandang hakekat dunia, atau worldview. Sehingga worldview tersebutlah yang akan membangun peradaban manusia.
Hubungan Logika dengan Filsafat Ilmu sering diartikan sebagai suatu alat untuk mengetahui segala hal yang belum diketahui, baik ia bersifar riil, ataupun abstrak, dengan keyakinan yang berdasar, entah ia sesuai dengan kenyataan ataupun tidak. Adapun logika sering diartikan sebagai suatu cara bernalar secara sistematis, atau tepatnya cara untuk mencari jalan, guna tercapainya ilmu yang benar. Karena kedua hal tersebut tidaklah mungkin dapat dispisahkan, karena keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Jadi logika, ialah jalan untuk mencapai pengetahuan yang benar, dan ilmu yang benar membutuhkan logika. Dalam hidup, panca indra manusia pastilah akan sering terbentur dengan banyak hal, terlebih lagi apa yang belum ia ketahui. Karenanya ia sangatlah memerlukan bantuan dari akal, ilmu, serta cara bernalar yang benar. Sehingga dengan alat tersebut, maka akhirnya sesuatu yang tadinya tidak mungkin diketahui manusia, menjadi bukan lagi sebuah kemustahilan untuk dicapai olehnya. Sehingga sesuatu yang tadinya asing, akan dapat di mengerti dan dipahami dengan segala sifat dan karaktersitiknnya. Lebih jauh lagi, jika dikaitkan dengan disiplin keilmuan lain, maka indentifikasi terhadap karakteristik suatu ilmu pengetahuan, adalah inti pola pemikiran filsafat. Filsafat sendiri tidak dapat didefinisikan secara pasti, karena ia berkaitan dengan masing-masing filsuf yang berkaitan dengannya. Seperti Plato, yang menyatakan filsafat sebagai ilmu yang berusaha meraih sebuah kebenaran yang murni. Adapun menurut Aristoteles, ia adalah suatu ilmu pengetahuan yang berusaha mencari prinsip-prinsip dan penyebab dari adanya suatu realitas. Namun secara singkat kita dapat mendefinisikannya sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memahami hakekat alam, dan realitas, serta membawa manusia untuk menelusuri batas-batas kemanusiaan, dan mengimani batas-batas ketuhanan, yang artinya ia sangat berkaitan dengan rasio dalam menalar dan iman dalam meyakini. Dalam perkembangannya filsafat sering dikatakan sebagai kakak kandung dari logika, maka dari itu ia harus lebih “pintar” dari logika itu sendiri. Hal ini dikarenakan bahwa inti dari filsafat adalah membentuk sebuah pola pikir, bukan sekedar mengisi kepada dengan fakta-fakta. Sehingga kelebihan filsafat itu sendiri dapat dikatakan mampu melengkapi manusia dalam banyak bidang non akademis, bahkan ia juga diplot mampu membawa perubahan kemandirian intelektual, dan dogmatis. Maka dari itu, berfilsafat berarti menyusun dan mempertanyakan keyakinan-keyakinan seseorang dengan menggunakan argumentasi rasional.
No comments:
Post a Comment